Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Hosting Unlimited Indonesia

Etika Konsumsi Islam: Sebuah Catatan Ringkas

Etika Konsumsi Islam

Pengantar

Masalah utama ekonomi adalah what, how, where, when dan for whom

Teori perilaku konsumen konvensional sebagai sumber dualitas, yaitu economic rasionalism (self interest) dan utilitarianism, sehingga individualis

Kebutuhan fisiologik dipengaruhi oleh faktor psikologis, melahirkan berbagai bentuk konkrit kebutuhan hedonistik materialistik, wastefull seperti cita rasa seni, kesombongan atau kemewahan

Konsep Islam atas Harta

Secara fiqih harta adalah sesuatu yang disukai manusia dan dapat disimpan untuk digunakan saat dibutuhkan

Harta pada hakikatnya mutlak milik Allah dan manusia hanya pengemban amanah 

Konsumsi akan terjadi jika manusia memiliki uang (harta).

Dalam Islam harta merupakan bagian fitrah manusia untuk mencintainya.

Eksistensi harta dibedakan atas :

o   Materi, berwujud jika manusia menggunakannya sebagai materi

o   Nilai, hanya berlaku jika diperbolehkan secara syariat

Harta diakui eksistensinya secara bersamaan antara materi dan nilai. Meski secara materi ada, tapi tidak akan bernilai jika digunakan tidak sesuai syariat (babi, minuman keras, bangkai, uang hasil riba, mencuri atau korupsi)

Konsep Islam terhadap Kepemilikan Harta

Sebab kepemilikan, akibat dari suatu konsekuensi kepemilikan (bekerja, jual beli, warisan, hibah, zakat, infak, shodaqoh, wakaf

Hak kepemilikan :

o   Milik Allah (An-Nuur:33, Al-Hadid:77)
o   Milik pribadi, tidak boleh diganggu (dipegang tanpa ijin pemilik) atau dicuri
o   Milik bersama, didahulukan kepentingan Bersama

Konsep Konsumsi Islami

Konsumsi secara umum didefinisikan dengan penggunaan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Perbedaan mendasar dalam konsumsi Islam adalah jenis yang dikonsumsi, tujuan pencapaian dan cara pencapaian tujuan harus sesuai syariah Islamiyyah.

Urgensi Konsumsi Islam

Konsumsi Islam adalah untuk kehidupan 
Konsumsi Islam untuk memenuhi kebutuhan dasar dan atasi kemiskinan 
Dilarang batasi konsumsi meski untuk tujuan ibadah (puasa dahr/wishal) 
Darurat, boleh yang haram (Al-An’am:145)

Tujuan Konsumsi Islam

Sebagai sarana wajib penolong untuk beribadah 
Sebagai bentuk syukur kepada Allah
Jika diniatkan ibadah, maka bisa bernilai ibadah meskipun mubah

Prinsip Konsumsi Islam

Prinsip Syariah 
Prinsip kuantitas 
Prinsip prioritas 
Prinsip sosial
Prinsip lingkungan 
Prinsip larangan meniru

Prinsip Syariah

Prinsip akidah

o   Keimanan terhadap akhirat (Muhammad:15, al-Baqarah:261,245)
o   Semua sumberdaya adalah anugerah dan amanah, mutlak milik Allah


Prinsip ilmu (akhlak konsumsi islam)

Prinsip amal (implementasi ilmu)

Prinsip Kuantitas

Sederhana (qonaah dan wasathon), cukup, tidak berlebihan (Al-A'raf:31), tidak boros, tidak mewah, tidak mubadzir, tidak kikir (Al-Furqan:67, Al-Isra':26-27)  

Kesesuaian konsumsi dengan pendapatan  

Penyimpanan (tabungan dan investasi)

Prinsip Prioritas

Urutan jenis yang terpenting: 

o   Primer, harus terpenuhi untuk kemalahatan agama dan dunia
o   Sekunder, untuk kemaslahatan yang lebih baik (madu, keju)
o   Tertier, hanya sebatas pelengkap dan hiasan

Urutan yang terdekat (tanggungan/keluarga, tetangga dst)

Prinsip Sosial

Umat, memperhatikan tetangga & umat muslimin 
Untuk kebajikan (Al-Baqarah:215), tidak menimbun (At-Taubah:34-35) 
Menjadi contoh teladan dalam konsumsi (makanan, pakaian dll) 
Tidak membahayakan orang lain 
Untuk kebajikan (Al-Baqarah:215), 
Tidak menimbun (At-Taubah:34-35)

Prinsip Lingkungan

Perubahan lingkungan mempengaruhi pola konsumsi, baik kuantitas maupun kualitas

o   Paceklik, dihemat
o   Wabah, minum madu

Prinsip Tidak Mengikuti/Meniru

Larangan meniru umat islam konsumsinya buruk (suka pesta jamuan) 
Larangan konsumsi masyarakat kafir, yang menjadi ciri khas 
Larangan meniru hedonis (selalu bersenang-senang), setiap yang diinginkan dibeli

Akhlak Konsumsi Islam

Konsumsi yang Halalan Thayyiban

o   Zat

Halal (al-Baqarah:168-169, An-Nahl:66-69)
Haram (al-Baqarah:173, Al-Maidah:3,90)

o   Proses

Sebelum makan basmalah, selesai hamdalah, menggunakan tangan kanan, bersih.

Tidak dilarang, misal : riba (Ali Imron:130), merampas (An Nissa’:6), judi (Al-Maidah:91), menipu, mengurangi timbangan, tidak menyebut Allah ketika disembelih.

o   Tujuan

Bukan untuk sesembahan selain Allah, seperti sesajen, sedekah bumi

Konsep Mashlahat dan Utility

Muslim harus berkonsumsi yang membawa manfaat (maslahat) dan bukan merugikan (madharat)
Konsep maslahat menyangkut maqashid syariah (dien, nafs, nasl, aql, maal) 
Konsep maslahat lebih objektif karena bertolak dari al-hajat ad-dharuriyat (need) 
Konsep maslahat individu senantiasa membawa dampak terhadap maslahat umum/sosial

Dampak Konsumsi yang Tidak Benar/Haram

Merusak agama 
Pengaruh terhadap ibadah 
Pengaruh terhadap akhlak 
Pengaruh terhadap kesatuan umat 
Pengaruh terhadap Kesehatan 
Menimbulkan kerusakan dan kemerosotan 
Kehinaan dan kenistaan 
Kehancuran ekonomi dan kemandekan produksi

Kurva Permintaan Konsumsi Islam

Barang halal : 

o   Al-haajat ad-dharuriyat (needs)
o   Ar-Raghbat at-tahsiniyyat (wants)
o   Hedonistik materialistic
o   Ibadah

Barang haram :

o   Tidak darurat
o   Darurat (demand point)

kurvailmuekis1


Fungsi Konsumsi Islam

Konsumsi Islam (diri, keluarga, fisabilillah) 

Ci = Cd + Ca 

    = a + b Yd + c Yz + d Yis 

dimana :

a = autonomus consumption 
b = marginal propensity to consume 
c = marginal propensity to zakat
d = marginal propensity to infaq & shodaqoh 
Ci = konsumsi Islam
Cd = konsumsi untuk kebutuhan dunia 
Ca = konsumsi untuk kebutuhan akhirat

Fungsi Konsumsi dalam Ekonomi Konvensional

Dalam kondisi muzakki tanpa membayar zakat, infak dan shodaqoh

o   C = 25 + 0,75 Y

Dalam ekonomi konvensional keseimbangan terjadi Y = C

o   Y = 25 + 0,75 Y
o   Y – 0,75 Y = 25
   Y = 100

Pendapatan Nasional Konvensional tanpa ZIS


Fungsi Konsumsi dalam Ekonomi Islam

Dalam kondisi muzakki telah memiliki tambahan pendapatan untuk mustahiq

o   Cd = 25 + 0,75 Y

o   Cz = 0,025 Y

o   Cis = 0,025 Y


Dalam ekonomi Islam keseimbangan terjadi Y = C, dengan tambahan Ca = Cz + Cis


Karena Ci = Cd + Ca, maka


Cd    = a + b Y (1 – z – is) 
= 25 + 0,75 (Y – 0,025Y – 0,025Y) 
= 25 + 0,75 (0,95Y) 
= 25 + 0,7125 Y
Ca    = Cz + Cis 
= 0,025Y + 0,025Y 
= 0,05 Y 
Ci      = 25 + 0,7125 Y + 0,05Y 

= 25 + 0,7625 Y 

 

Karena Y = Ci, maka


Y    = 25 + 0,7625 Y 
Y    = 105,26316, dimana: 
Cd   = 25 + 0,7125 (105,26316) 
= 100 (muzakki) 
Ca   = 0,05 (105,26316)
= 5,26136 (mustahiq)

Pengaruh ZIS terhadap Pendapatan Nasional


Kesimpulan

Islam sebagai way of life yang kamil dan syamil juga telah mengatur konsep tentang konsumsi melalui syariah Islamiyyah

Prinsip dan akhlak konsumsi islami akan berkonsekuensi kepada terciptanya maslahat/kesejahteraan secara menyeluruh

Rahmatullah
Rahmatullah Hidup Hanya Sekali

Posting Komentar untuk "Etika Konsumsi Islam: Sebuah Catatan Ringkas"

Hosting Unlimited Indonesia