Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ekonomi Islam Sebagai Ekonomi Syariah (Bag. 1)

Dalam realitas, yang kini telah berkembang ke tingkat diskursus adalah Ekonomi Islam dengan sebutan Ekonomi Syariah sebagai Ekonomi Hukum (Legal Economics). Gagasan ini kini telah menjadi diskursus (discourse) di tingkat internasional, kawasan Asia Tenggara maupun nasional Indonesia.

Perkembangan pemikiran ini telah menghasilkan pengertian dan definisi sebagaimana dirumuskan oleh Hasanuz Zaman sebagai berikut “Ekonomi Islam adalah pengetahuan tentang penerapan perintah-perintah (injuctions) dan tata cara (rules) yang ditetapkan oleh syari’ah, dalam rangka mencegah ketidak-Adilan dalam penggalian dan penggunaan sumberdaya material guna memenuhi kebutuhan manusia yang memungkinkan mereka memenuhi kewajiban meraka kepada Allah dan masyarakat”.

Ahli Ekonomi Islam dari Clark University, Kanada asal Pakistan, Muhammad Arief Zakrullah dalam tulisannya menyatakan bahwa paradigma Ekonomi Islam yang telah disepakati dalam komunitas ilmu Ekonomi Islam adalah Syari’ah. Tapi dalam realitas yang dimaksud dengan “syari’ah” di bidang ekonomi itu adalah hukum mu’amalah atau transaksi keuangan, dan dalam transaksi keuangan itu yang menjadi dasar teori adalah konsep “riba”.

Menurut ahli moneter dan perbankan syari’ah Iran Dr. Abbad Mousoviyan, walaupun muncul banyak interpretasi mengenai pengertian riba, namun para fuqaha bersepakat bahwa riba adalah bunga uang yang mencakup pengertian interest dan usury dan keduanya diharamkan. Tetapi yang menjadi masalah adalah:

Apakah yang menjadi alternatif dari sistem riba?

Dalam al Qur'an disebutkan dua alternatif, pertama zakat, dan kedua jual beli. Namun, masalah riba itu dalam dunia Islam dikaitkan dengan kebutuhan pembentukan bank untuk membangun perekonomian Islam. Karena itu, solusi yang muncul adalah solusi yang berkaitan dengan sistem perbankan.

Menurut Mousroviyan, di kalangan fuqaha lahir 4 pemikiran mengenai solusi non-ribawi:

  • Pertama adalah solusi zakat yang berkembang menjadi filantropi atau kedermawanan.
  • Kedua, adalah solusi qard al hasan atau fasilitas kebaikan.
  • Ketiga adalah solusi bayk atau tijarah yang merubah transaksi keuangan menjadi transaksi jual beli atau perdagangan
  • Keempat solusi musyarakah atau kerjasama permodalan untuk mengerjakan suatu proyek usaha.

Kesemua solusi itu dirangkum dan dijabarkan secara praktis sebagai model-model atau produk perbankan sebagai yang kita kenal dewasa ini. Namun dalam realitas, perbankan Islam dari berbagai negara sendiri terdapat perbedaan strategi dalam penerapan dan pemasarannya. Di Iran misalnya, yang menonjol adalah solusi atau produksi musyarakah dan qard al hasan. Sedangkan di Indonesia adalah produk murabahah atau bayk.

Lebih lanjut, Umer Chapra, ekonom profesional asal Saudi Arabia mengatakan bahwa basis epistemologi dari sistem ekonomi Islam adalah al Maqasid al Syari’ah atau tujuan syari’ah yang intinya adalah doktrin mengenai al maslahah al mursalah atau kesejahteraan umum yang menurut Ibn Raimiyah mencakup iman atau agama, akal, jiwa, keturunan dan harta. Sementara, menurut al Syatibi, akal digantikan dengan kehormatan, sehingga jika dikombinasikan mencakup 6 aspek kemaslahatan.


Arsitektur Ekonomi Islam - M. Dawam Rahardjo

4 komentar untuk "Ekonomi Islam Sebagai Ekonomi Syariah (Bag. 1)"

  1. Ini dia yang saya cari selama ini, akhir nya ketemu juga
    Terim kasih yaa

    BalasHapus
  2. Terima kasih atas sharingnya, sekarang jadi makin paham mengenai makna Syariah dalam sistem perekonomian.

    Riba memang menjadi hal yang paling populer dibahas, karena itu termasuk ke dalam salah satu prinsip penting Ekonomi Islam, yaitu "Larangan Riba dan Promosi Profit and Loss Sharing".

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah, semoga bermanfaat..

    BalasHapus
  4. Ditunggu part 2nya min... ☺

    BalasHapus