Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Biografi Prof. DR. Kahrudin Yunus: Pemikir Awal Ekonomi Islam Kontemporer


Literasi keilmuan ekonomi Islam terus berlanjut, sejak zaman para sahabat hingga masa sekarang ini. Kita mengenal beberapa aliran (mazhab) dalam ekonomi Islam sebagaimana yang disebutkan oleh Adiwarman A. Karim (salah seorang ahli ekonomi Islam di Indonesia) seperti aliran Baqir as-sadr dengan Iqtishoduna-nya, kemudian mazhab mainstream, dan mazhab alternatif-kritis.

Namun, dalam pembahasan kali ini kita tidak membahasnya lebih lanjut. Kali ini kita akan membahas mengenai biografi singkat Prof. DR. Kahruddin Yunus. Bisa dibilang beliaulah orang pertama dikalangan pemikir kontemporer yang mengenalkan prinsip dasar sistem ekonomi Islam jauh sebelum nama Muhammad Abdul Mannan di era 1970-an terdengar.

Dengan sistem ekonomi yang berakar kebudayaan, lahirlah karya monumentalnya yang berjudul “Sistem Ekonomi Kemakmuran Bersama (Bersamaisme)” tahun 1955 dengan total halaman sekitar 700-an halaman. Ini sudah cukup menjadi alasan beliau untuk tidak sembarang memakai gagasan sebagaimana yang ditawarkan oleh berbagai sistem ekonomi mainstream, baik yang berasal dari sisi kiri, kanan, maupun tengah. Awal mulanya buku ini dicetak dengan Bahasa Arab dan telah tersebar diberbagai negara di dunia. Beliau berpendapat bahwa ekonomi Islam harus dibangun diatas manfaat politik ekonomi untuk membangun sistem demokrasi.

Biografi Singkat Kahrudin Yunus

biografi-kahrudin-yunus
Kahruddin Yunus kelahiran Jorong Sarikieh, Nagari Sulit Air, Kab. Solok, Sumatera Barat 14 Agustus 1915.
  • Ia tamatan sekolah Normal Islam (Kuliyah Mu’alimin Islamiah) tahun 1937, Padang – Indonesia.
  • Mendapatkan gelar B.A dalam Ilmu Dagang. Universitas Al Azhar, Cairo-Mesir
  • Diploma dalam Ilmu Politik dan M.A dalam Politik Ekonomi dari Fakultas Dagang, Universitas Egypt, Cairo-Mesir.
  • Mengambil Doktor dari Coloumbia University, New York City (namun tidak selesai)
  • Gelar terakhirnya Doktor (Ph.D) dibidang filsafat ekonomi dari Universitas Amerika.


Selama kuliah d mesir, Kahrudin Yunus banyak menulis di harian persamaan, pandji Islam, dan majalah-majalah Islam d timur tengah.

Sesampainya di Indonesia pada 6 Oktober 1954 beliau diangkat menjadi pegawai tinggi pada kementrian PP & K (Pengajaran, Pendidikan & Kebudayaan) dan disamping itu juga menjadi dosen dalam beberapa perguruan tinggi di Indonesia, seperti:

  • P T P G (Perguruan Tinggi Pendidikan Guru) Batu Sangkar
  • U I S U (Universitas Islam Sumatera Utara) Medan
  • Perguruan Tinggi Darul Hikmah, Bukit Tinggi
  • P T A I N (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri) di Yogyakarta
  • Fakultas Hukum dan Filsafah Muhammadiyah di Padang Panjang
  • Perguruan Tinggi Islam Tjokroaminoto di Surakarta
Disamping menjadi dosen, beliau juga ikut bergabung dalam Perkumpulan Pendukung Ekonomi Islam (PPEI) sebagai Ketua Umum sementara dan aktif dalam mengembangkan dan memperdalam pendapatnya ini dengan berbagai cara, terutama kepada para anggota dan para peminat PPEI.

Menjelang akhir hayatnya, Kahrudin pernah berkata kepada anaknya, Damai bin Kahar Pakieh Kumanggo, "Kalau di Sulit Air, seujung kuku saya tak dihargai, di Minangkabau, paling cuma seujung saja. Di Indonesia, hanya sekuku. Tapi kalau saya di Arab, saya disambut melebihi seorang perdana menteri."

Mengapa demikian? Perjalanan hidupnya cukup kompleks

----------

Catatan Tambahan

Beberapa hasil tulisan diatas diambil dari buku beliau sendiri yang berjudul “Sistem Ekonomi Menurut Islam Islam (Bersamaisme) Jilid II"

Kemudian biografi lengkap beliau telah di muat dalam Disertasinya Addi Arrahman yang berudul “Ekonomi Kemakmuran Bersama: Indonesian Islamic Economic Thought of Kharudin Yunus

Ada perubahan dalam daerah tempat lahir Kahrudin Yunus dilahirkan, yang benar di Jorong Sarikieh, Nagari Sulit Air (Penelitian lebih lanjut dari Bpk. Addi Arrahman)

3 komentar untuk "Biografi Prof. DR. Kahrudin Yunus: Pemikir Awal Ekonomi Islam Kontemporer"

  1. Dimas Ahmadi9 Juni 2020 07.17

    MasyaAllah luar biasa, Indonesia kaya akan kaum intelektual sedari dulu
    namun sayang, semua di pengaruhi oleh kepentingan politik bangsa ini

    BalasHapus
  2. Rahim Jabbar27 Juni 2020 04.00

    Senang sekali jika buku beliau bisa diupayakan untuk diterbitkan kembali....

    BalasHapus
  3. untuk proses pencetakan ulangnya sendiri sudah dalam proses, tinggal kita tunggu waktunya saja

    BalasHapus